WASPADA BAHAYA KOI HERPES VIRUS

Perikanan No Comments

WASPADA BAHAYA KOI HERPES VIRUS
Gambaran mengenai KHV
Masyarakat di wilayah Desa Sukajadi, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin melakukan usaha budidaya ikan air tawar dengan memakai sistem polikultur. Sebagai contoh ikan Gurame dibudidayakan secara bersama-sama dengan ikan Mas, Nila, dan Patin dalam satu kolam. Sementara itu para pembudidaya ikan tidak mengetahui bahwa sistem budidaya dengan berbagai jenis ikan dalam satu kolam sering rentan terhadap penyebaran/penularan berbagai jenis penyakit. Di suatu kawasan budi daya dimana ikan yang dipelihara sering mengalami serangan Koi Herpes Virus (KHV), yang awalnya menyerang ikan Mas (Cyprinus carpio) dapat menyerang ikan-ikan lainnya seperti ikan Nila. Serangan KHV pada ikan Nila bisa terjadi karena ikan Nila bersifat pembawa (carier) virus KHV. Untuk itu, pembudidaya ikan harus berhati-hati dalam mengelola kegiatan budidayanya, terutama untuk budidaya ikan Mas dan Nila.
Penyakit KHV yang dominan menyerang ikan mas (Cyprinus carpio), di berbagai tempat sering disebutkan sebagai penyakit herpes pada ikan. Penyakit ini diartikan sebagai salah satu penyakit ikan yang hanya menginfeksi dan dapat menyebabkan kematian massal pada ikan mas dan juga varian ikan hias. Penyakit ini masuk dalam kategori berbahaya karena dapat menular secara cepat dan menyebabkan kematian pada ikan hingga 85-100% pada semua umur atau ukuran ikan. Penyakit KHV juga disebut sebagai virus yang menyerang saat dingin (a cold virus) karena pemicu penyakit ini adalah penurunan suhu lingkungan. Individu yang bertahan hidup pada saat terjadinya wabah umumnya akan menjadi tahan terhadap infeksi berikutnya. Virus akan tetap bersama ikan yang tetap hidup setelah terinfeksi dan berpotensi sebagai pembawa virus selama hidupnya (carrier). Virus ini hanya menginfeksi pada jenis ikan koi dan ikan mas, namun tidak dapat menular pada manusia yang mengkonsumsi (tidak zoonosis). Seperti yang diungkap oleh Taukhid pada 2010, keganasan penyakit KHV dipicu oleh kondisi lingkungan diantaranya; temperatur air yang dibawah 300 C dan kualitas air yang buruk.
Bagaimana dan kapan serangan KHV bisa terjadi?. Pada kegiatan budidaya ikan yang intensif tanpa diikuti dengan sistem biosekuriti yang baik sering mengakibatkan adanya penyebaran penyakit yang cepat antar populasi ikan, baik secara lokal, regional ataupun antar negara. Beberapa penyakit dapat menyerang tanpa membedakan jenis inangnya sedangkan yang lain bersifat spesifik-inang. Penyakit yang diakibatkan virus biasanya bersifat khusus pada famili yang memiliki kekerabatan dekat atau bahkan hanya pada jenis tertentu. Umumnya, penyakit yang diakibatkan virus dapat menimbulkan penyakit yang akut dan kematian. Pada famili Cyprinidae, beberapa virus yang pernah dilaporkan oleh Hutoran dkk. pada 2005, menyebabkan penyakit akut, antara lain: rhabdovirus, corona-like virus, iridovirus dan herpesvirus.
Terdeteksinya KHV pertama kali terjadi pada 1998 saat mana banyak ikan koi, baik stadia juvenil maupun dewasa yang dibudidayakan mengalami kematian secara massal di Israel, Amerika Serikat dan Jerman. Selanjutnya penyebaran virus ini sudah mencapai negara-negara Asia dan Afrika seperti Cina, Taiwan, Jepang, Thailand, Indonesia, Malaysia dan Afrika Selatan. Dari catatan yang ada, serangan virus ini telah menyebabkan kerugian yang sangat besar pada industri akuakultur mengingat ikan mas merupakan komoditas utama ikan konsumsi. Di Israel, penyakit ini telah menyebar ke 90% budidaya ikan Mas di semua bagian negara. Hal serupa juga terjadi di Indonesia, penyebaran penyakit ini telah melintasi hampir semua daerah budidaya ikan Mas di Indonesia. Kegiatan budidaya yang intensif, pameran ikan koi dan perdagangan aktif domestik dan internasional yang hampir tidak ada pembatasan dan pemeriksaan atau penerapan program karantina merupakan penyebab penyebaran yang sangat cepat penyakit ini secara global.
Virus KHV masuk ke Indonesia pada 2002 melalui perdagangan ikan lintas negara. Infeksi KHV di Indonesia pertama kali terjadi di Blitar dan menyebar ke beberapa wilayah di Indonesia lainya terutama di Jawa, Bali, dan Sumatera. Catatan dari Stasiun Karantina Ikan SMB II Palembang pada 2003 menyebutkan di Provinsi Sumatera Selatan, awal Februari 2003 wabah penyakit ikan KHV menyerang ikan Mas (Cyprinus carpio L) yang berakibat kematian massal ikan, sehingga kerugian pembudidaya ikan mencapai 7.5 milyar rupiah terdiri dari 813,726 ikan konsumsi dan 1,3 juta ekor benih. Wabah penyakit KHV ini sangat serius karena menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Kerugian yang tercatat di Indonesia berdasarkan informasi yang dikumpulkan hingga awal 2004 yang dilaporkan oleh Nuryanti dkk. pada 2010, secara kumulatif untuk wilayah pulau Jawa, Bali, Sumbawa, dan Sumatera diperkirakan mencapai lebih dari 100 milyar rupiah.
Mengenali gejala klinis penyakit KHV dapat dilihat dari kondisi nafsu makan pada ikan yang mulai menurun sampai tidak mau makan lagi. Hal ini mengakibatkan ikan tampak: (i) terlihat lesu, respon tanggap berkurang dan kehilangan keseimbangan berenang; (ii) menunjukkan gerakan yang tidak terkontrol, kadang aktif dan kadang diam; dan (iii) terjadi perubahan warna tubuh, pada bagian matanya terlihat cekung dan ditutupi selaput putih. Ikan yang mengalami serangan virus KHV jika dibedah tampak hati ikan berwarna pucat dan selanjutnya rusak, ginjal (anterior dan posterior) berwarna pucat. Kematian ikan secara massal dapat terjadi dalam periode waktu satu sampai tujuh hari.
Pada gambar-gambar berikut dijelaskan penampakan tanda-tanda yang dapat dilihat pada dan dalam tubuh ikan yang terserang KHV. Pada Gambar 1 (atas) tampak dengan jelas pada tubuh ikan yang kesat karena kekurangan lendir. Saat terjadi serangan virus KHV ikan akan memproduksi lendir berlebihan sebagai respon fisiologis terhadap kehadiran patogen, namun selanjutnya produksi lendir menurun drastis sehingga tubuh ikan menjadi kesatSelanjutnya sisik pada ikan mengelupas, sirip geripis dan kulit melepuh disertai luka pada permukaan tubuh (Gambar 1, bawah).

Gambar 1. Kondisi yang tampak pada tubuh ikan bagian luar yang mengalami serangan virus KHV: Atas – bagian tubuh kesat dan Bawah – sisik mengelupas.

Bagian yang sangat mencolok bila ikan mengalami serangan virus KHV adalah insang. Sebelum ikan mengalami kematian, tampak ikan menuju permukaan dengan kondisi mulut yang mengap-mengap. Hal ini dikarenakan telah terjadi kerusakan insang (Gambar 2, atas) sehingga terjadi gangguan respirasi pada insang. Pada Gambar 2 (bawah) tampak necrosis pada insang ditandai dengan kondisi insang pucat, terdapat bercak putih (white patch), akhirnya rusak dan membusuk. Perubahan warna insang dan adanya bercak putih atau coklat ini dikarenakan adanya kematian sel sel insang atau sering disebut “gill necrosis”. Selanjutnya menjadi rusak, geripis pada ujung tapis insang dan akhirnya membusuk. Secara mikroskopis menunjukkan adanya kerusakan jaringan yang serius serta kematian sel yang berat.

Gambar 2. Sampel ikan terserang KHV: Atas – bagian insang yang rusak dan Bawah – insang pucat dengan bercak putih, rusak dan membusuk.

Cara Penyebaran Penyakit Koi Herpes Virus
Tingkat penularan penyakit KHV sangat tinggi sehingga mudah menyebar dari satu ikan ke ikan lainnya dengan sangat cepat. Penyakit Herpes/KHV ini menyebar dengan cara yang sama seperti kebanyakan virus herpes yaitu secara kontak langsung dengan ikan yang terinfeksi, dengan cairan dari ikan yang terinfeksi, atau dengan air dan lumpur dari sistem. Selain itu juga bisa karena kontak langsung dengan peralatan yang terkontaminasi. Siklus Hidup KHV, berdasarkan penelitian didapatkan bahwa virus KHV masuk ke dalam tubuh ikan (hospes) melalui insang, kulit yang ditutupi sirip dan melalui tubuh ikan. Virus yang berhasil masuk ke dalam tubuh ini kemudian akan menyebar secara sistemik dari kulit ataupun insang ke dalam organ internal hospes seperti pada organ ginjal, limfa, hati, usus dan jaringan. Pada pemeriksaan ultra dari eksperimen ikan mas yang terinfeksi telah memberikan bukti pematangan atau perkembangan virion virus ini terjadi pada inti sel yaitu pada sitoplasma. Pada awal infeksi akan terjadi sekresi lendir yang berlebihan hal ini dikarenakan adanya keterlibatan aktif dari kulit hospes dalam patogenesis virus ini. Setelah virus ini menginfeksi daerah lainnya dan mengakibatkan terjadinya kerusakan maka virus ini sebagian ada yang keluar dari tubuh hospes dan ada yang dorman tetap berada dalam tubuh hospes nya. Pengeluaran virus KHV pada hospes melalui urin dan feses. Dalam laporan Adkison pada 2005, urin dan feses yang dikeluarkan oleh ikan yang sudah terinfeksi ini dapat menular pada ikan lain disekitarnya pada satu kolam tersebut.

Pencegahan dan Penanganan Penyakit
Pengobatan penyakit KHV sampai saat ini dilaporkan belum efektif, artinya belum adanya obat yang dapat membunuh virus ini sehingga apabila KHV sudah terlanjur menyerang ikan Mas atau Nila maka cara efektif yang harus dilakukan adalah dengan cara: (i) memisahkan ikan mas yang sudah terinfeksi dari ikan yang masih sehat dengan cara memasukkan ikan yang terinfeksi ke dalam kolam karantina; (ii) menaikkan suhu air kolam karantina secara perlahan-lahan hingga 30 oC dan memberikan aerasi yang cukup; dan (ii i) selama masa pengobatan ini ikan tidak perlu diberi makan, namun hanya perlu memberikan antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder saja.
Pencegahan juga dapat dilakukan untuk mengantisipasi agar ikan-ikan yang sedang dipelihara tidak terserang virus KHV. Langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan adalah: (i) gunakan antibiotik maupun bahan kimia, namun penggunaan antibiotik maupun bahan kimia ini tidak membuat keadaan lebih baik. Antibiotik dapat meninggalkan residu di tubuh ikan dan mengakibatkan resistensi terhadap antibiotik bagi manusia yang mengkonsumsinya; (ii) gunakan desinfeksi sebelum/selama proses produksi; (iii) berikan vitamin C, dosis pemberian vitamin C berkisar antara 250-750 mg/kg pakan. Idealnya pakan mengandung vitamin diberikan selama pemeliharaan dengan frekuensi sekali sehari dari salah satu jatah pemberian pakan; (iv) lakukan manajemen kesehatan ikan yg terintegrasi; (v) gunakan ikan bebas KHV dan karantina (penerapan biosecurity); (vi) berikan imunopropilaksis, pemberian unsur imunostimulan adalah salah satu bahan atau zat yang dapat memicu terbentuknya kekebalan tubuh; (vii) kurangi kepadatan ikan guna untuk menghindari stress; (viii) kenali musim sukses dan gagal dalam usaha budidaya (kaitannya dengan kondisi lingkungan, kualitas dan kuantitas air); dan (ix) berhati-hati terhadap perubahan cuaca sering hujan yang mengakibatkan suhu air menjadi rendah, pada kondisi air bersuhu rendah serangan KHV terjadi pada ikan.

Penulis
Ida Ayu N.S Utami, S.St.Pi.,M.Si/Pengendali Hama Penyakit Ikan Ahli Muda/Tenaga Fungsional di Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas II Palembang.

MAKAN IKAN MENTAH BERESIKO TERINFEKSI PARASIT CACING PITA JEPANG

Perikanan No Comments

Makanan “sashimi” khas Jepang sudah begitu populer di kalangan masyarakat Indonesia termasuk masyarakat Palembang. Kekhasan sashimi adalah suatu hidangan yang terbuat dari ikan mentah. Manfaatnya pun sangat banyak diuraikan sehingga makanan dari ikan mentah ini menjadi sering dikonsumsi. Namun, bagaimana mensiasati agar makanan sashimi terjamin sehat untuk dimakan?
Di negara asalnya, sashimi termasuk hidangan sehari-hari. Hidangan ikan mentah ini menggunakan ikan-ikan segar yang kaya akan Omega 3, seperti kakap, tuna dan salmon. Alasan utama mengapa orang Jepang sangat suka makan sashimi adalah karena kadar Omega 3 pada ikan-ikan tersebut sangat tinggi jika dimakan dalam keadaan mentah, daripada dalam keadaan matang.
Itu sebabnya, sashimi tidak hanya dimakan oleh orang dewasa saja. Sejak kecil, anak-anak di Jepang sudah dibiasakan makan sashimi. Sebab, Omega 3 yang dikonsumsi dipercaya bisa membuat IQ jadi lebih tinggi, tidak mudah depresi, dan menurunkan kadar ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) yaitu suatu gangguan perkembangan dalam peningkatan aktivitas motorik anak-anak hingga menyebabkan aktivitas anak-anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan.

Selain alasan kadar Omega 3 yang sangat tinggi jika ikan dimakan dalam keadaan mentah, ikan mentah juga kaya akan protein namun rendah kalori. Sehingga secara keseluruhan, makan sashimi diyakini banyak memberi manfaat bagi tubuh.

Tapi, meski dipercayai mengkonsumsi ikan mentah memberikan banyak manfaat, namun bagaimana kita mengetahui apakah sashimi sehat untuk dimakan? Sebenarnya tidak ada masalah jika ingin makan sashimi selama ikan mentah yang akan dimakan memiliki kualitas yang baik dan bebas dari parasit seperti cacing yang ada di dalam daging ikan mentah.

Jadi mengenali gejala klinis ikan yang terserang parasit seperti cacing pita jepang adalah hal yang baik dilakukan. Gejala klinis ikan yang terserang parasit cacing terlihat dari kenampakannya dan bau ikan yaitu daging kering dan kurang bersih, daging ikan tidak mengkilat dan warna daging krem kecoklatan atau kekuningan, bau kurang segar, amis menyengat dan sedikit bau amoniak, bentuk tekstur potongan fillet tidak padat, lembek, dan tidak kompak.

Serangan parasit pada ikan laut meningkat selama dekade sekarang, disebabkan kebanyakan oleh berulangnya infeksi ke manusia lewat ikan mentah atau setengah matang, dalam bentuk larva dari parasit, khususnya yang terkenal berbahaya yaitu larva cacing pita Jepang dari klas cestoda Diphyllobothrium nihonkaiense, yang dapat terlihat dengan kasat mata manusia tapi sulit untuk dideteksi. Penemuan parasit cacing ini tercatat di beberapa negara seperti: Jepang, Belanda, Amerika yang menyebabkan manusia terinfeksi parasit ini . Seperti yang terjadi di Taiwan baru-baru ini. Seperti dikutip dari laman Daily Mail, Kamis (15/6/2017), seorang bocah berusia delapan tahun, mengaku mengalami gatal-gatal pada bagian dalam perutnya. Setelah pemeriksaan dilakukan, dokter menemukan cacing pita Diphyllobothrium latum berukuran 2,6 meter di dalam perutnya. Setelah operasi, bocah perempuan yang tak disebutkan namanya itu telah dinyatakan pulih. Menurut Centers for Disease Control and Prevention di Amerika Serikat, parasit Diphyllobothrium latum adalah jenis cacing pita terbesar yang menyerang manusia, atau sering dikenal dengan sebutan cacing pita lebar. Biasanya cacing pita ini akan berkembang di dalam tubuh ketika manusia mengkonsumsi daging babi, sapi, atau ikan mentah yang telah terkontaminasi.

Parasit Cacing pita ditemukan di saluran pencernaan manusia.
Banyak ikan air tawar dan laut merupakan hospes (inang) parasit pada aves, mammalia, pisces dan manusia. Zoonosis (infeksi penyakit hewan ke manusia) yang ditularkan melalui ikan seringkali terdapat di negara dimana penduduknya suka makan ikan mentah atau kurang matang, misalnya di Cina, Jepang, Korea, Thailand dll. Dulu masyarakat Indonesia tidak terbiasa makan ikan mentah, sehingga penyakit yang ditularkan melalui ikan jarang ditemukan, namun seiring dengan pengaruh globalisasi kegemaran masyarakat Indonesia mengkonsumsi makanan dari ikan mentah cenderung meningkat. Dengan demikian sebelum terjadi kasus serangan parasit cacing pita di dalam tubuh, perlu waspada dalam hal memakan makanan berbahan daging mentah karena infeksi serangan parasit pada ikan mentah atau kurang matang ini cukup tinggi.
Infeksi parasit cacing pita jepang khususnya yang disebabkan oleh parasit dari klas Cestoda Diphyllobothrium nihonkaiense ditemukan 70% sampai 80% dari ikan laut yang diteliti, yang diimpor dari Filiphina, Srilanka, Hawaii, Karibia, Australia dan Laut Merah serta ikan yang berasal dari perairan Indonesia. Dalam kebanyakan kasus disebutkan bahwa cacing menyebabkan kerusakan ringan pada ikan, situasi menjadi buruk bila cacing berbiak cepat atau bila ikan menjadi lemah karena kondisi – kondisi buruk seperti saat pengangkutan ikan, kurang makan, adanya penyakit dll. Pada kasus seperti ini ikan dapat menjadi lemah dan bahkan mati.
Siklus hidup parasit Diphyllobothrium nihonkaiense dapat digambarkan, bahwa parasit cacing pita jepang ini memiliki empat scolex (alat penghisap), dimana dalam stadia telur atau larva yang menetas dari cestoda ditelan oleh ikan di dalam rongga tubuh organ pencernaan ikan, dan benih – benih cacing tumbuh mencapai tahap dewasa dalam usus manusia dan dapat menyebabkan penyakit serius dan bisa berakibat fatal.
Ikan mentah bisa mengandung cacing kecil, yang bisa masuk secara langsung dalam usus manusia yang memakannya. Dalam kasus yang lebih parah, masuknya cacing ke dalam tubuh dapat menyebabkan reaksi anafilaksis, yang mana parasit memicu detak jantung yang tidak menentu dan gagal napas pada penderitanya, yang bisa berakibat fatal. Kebanyakan orang percaya bahwa sushi adalah makanan bergizi rendah kalori, namun sebuah studi mengungkapkan bahwa selain terkena parasit cacing makan banyak sushi membuat orang terancam terkena kadar merkuri yang berbahaya dari ikan mentah, yang dapat menyebabkan penyakit jantung, masalah dengan perkembangan system otak dan syaraf.
Jadi langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari Infeksi parasit cacing pita ini pada saat memakan ikan mentah yaitu pengamatan yang baik dan jeli terhadap ikan dengan cara memilih ikan segar dalam bentuk fillet diantara nya: (1) Bentuk potongan fillet padat, (2) Daging ikan mengkilat, (3) Daging kenyal, bila ditekan kembali kebentuk asal, (4) Tidak bau amis apalagi busuk, (5) Daging melekat kuat pada tulang, (6) Tidak menampakkan warna kecoklatan atau kekuningan, (7) Daging tidak kering. Selain itu, langkah pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan membekukan ikan pada suhu -20° C selama tujuh hari atau dibekukan pada -35° C selama 15 jam. Pembekuan ini bertujuan untuk membunuh parasit yang ada di ikan. Oleh karena itu, bila ingin makan ikan mentah sebaiknya disiapkan dengan benar ikan mentah yang akan dikonsumsi sesuai peraturan keamanan pangan yang berlaku. Risiko untuk bisa menimbulkan penyakit mungkin sangat kecil, sehingga aman untuk dikonsumsi. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan terkena infeksi parasit jika masih terdapat organisme berbahaya meskipun jumlahnya sangat sedikit pada ikan mentah, walaupun sudah melalui proses pembekuan. Oleh karena itu, kita tetap harus memperhatikan kesegaran ikan, kebersihan, pengolahan, dan penyajian makanan berbahan dasar ikan mentah untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan.

Penulis
Ida Ayu N.S Utami, S.St.Pi.,M.Si/Pengendali Hama Penyakit Ikan Ahli Muda/Tenaga Fungsional di Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas II Palembang.

Perkebunan Kelapa Sawit

Perkebunan No Comments

Sekilas Tentang Perkebunan Kelapa Sawit